Header Ads

postimage

Nikmatnya Burbacek, Kuliner Bubur Kulit Sapi Khas Indramayu


Indramayu - Kulit sapi atau yang disebut cecek oleh masyarakat Indramayu biasa dioleh menjadi sate atau disemur seperti halnya usus ayam. Olahan cecek tersebut biasa dimakan sebagai lauk pendamping nasi. Apa jadinya bila cecek dicampur dengan bubur? Masakan tersebut dinamakan burbacek.

Burbacek yang berarti bubur, rumbah, dan cecek bisa ditemukan di wilayah Indramayu. Masakan tersebut sudah dianggap salah satu kuliner khas di sana. Meskipun, untuk menemukan makanan tersebut memerlukan sedikit perjuangan karena hanya sedikit orang yang menjualnya.

Salah satu penjual yang masih bertahan adalah Kastiyah (53). Ia mengklaim menciptakan resep masakan tersebut sejak lebih dari 30 tahun lalu. Meski sudah puluhan tahun berjualan, ia masih betah berjualan di rumahnya yang sederhana di Desa Terusan, Kecamatan Sindang, Indramayu.

Para penikmat burbacek di tempatnya harus rela berjalan kaki dari jalan raya Sindang karena rumah sekaligus tempatnya berjualan berada di tengah perkampungan yang hanya bisa dimasuki sepeda motor atau pejalan kaki. Jarak dari jalan raya ke sana sekitar 100 meter atau ditempuh selama kurang lebih lima menit.

Kerumunan pembeli selalu terjadi di sekitar tempatnya berjualan. Awalnya, Kastiyah hanya berjualan rumbah. Rumbah adalah masakan yang terdiri atas berbagai jenis sayuran rebus seperti kangkung, tauge, dan daun semanggen. Sayuran-sayuran itu dicampur dengan tambahan bumbu saus kacang seperti halnya karedok.

”sekitar 30 tahun lalu tiba-tiba muncul ide untuk mencapurkan bubur dengan rumbah yang biasa saya jual di sini,” kata Kastiyah yang ditemui di tempatnya berjualan beberapa waktu lalu. Pada perkembangannya, ia pun mencampurkan cecek yang sebelumnya telah dimasak dengan bumbu kelapa, kemiri, daun jeruk, dan kencur.

Kastiyah meyakinkan ide tersebut bukan berasal dari resep nenek moyang atau pun terinspirasi masakan lainnya. Semenjak ramai dikonsumsi masyarakat sekitar, ia mengakui mulai banyak bermunculan penjual burbacek di daerahnya. Namun, lama-lama para penjualnya pun berkurang hingga sekarang diyakini tersisa beberapa orang saja.

Cita rasa burbacek buatan Kastiyah dianggap khas oleh para pembelinya. Tak hanya mencampurkan bubur, rumbah, dan cecek, ia pun menambahkan kuah khusus. Kuah tersebut adalah kaldu pindang ikan yang dimasak dengan cabai dan bawang merah.

Kuah yang disebut petis itu memberikan aroma yang sedap pada masakannya. Kasiyah juga menambahkan kecap khusus dari kecap botolan yang dimasak dengan tambahan bumbu-bumbu rahasia yang membuatnya lebih encer dan gurih.

Satu porsi burbacek di tempatnya dihargai sebanyak Rp 6.000 saja. Dari pantauan di beberapa tempat lain yang menjual masakan tersebut, harga satu porsi memang lebih mahal beberapa ribu rupiah.

”Dari awal dibuka harganya Rp 3.000. Sekarang jadi Rp 6.000. Tidak mahal-mahal yang penting banyak yang beli saja,” kata Kastiyah.

Menurut salah seorang pembeli, Canggih Akare, burbacek buatan Kastiyah lebih enak dibandingkan di tempat lain. ”Saya biasa datang ke sini pada jam makan siang. Biasa datang ke sini karena lebih enak daripada di tempat lainnya,” katanya menegaskan. Ia biasa menyantap burbacek dengan beberapa gorengan.

Dalam satu hari, Kastiyah bisa menghabiskan sedikitnya 4 kilogram beras untuk dijadikan bubur. Tempat tersebut biasa buka mulai dari pukul 11.00 hingga 15.00. Namun, jangan heran bila pada pukul 14.00 masakannya sudah habis terjual terutama pada saat liburan.


Penulis : Hilmi Abdul Halim
Powered by Blogger.