ads

PILKADA INDRAMAYU 2015

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Peringati May Day, Ribuan Buruh Bakal Konvoi di Indramayu


Indramayu - Dalam memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei mendatang, ribuan buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Mitra Kerja (SBMK) Balongan, Serikat Buruh Migas LPJ, dan SPM Dwikora Balongan, akan melakukan konvoi dan aksi unjuk rasa.

Konvoi dimulai dari RU VI Balongan, kemudian bergerak ke DPRD Indramayu, Kantor BPJS Kesehatan Indramayu, serta Kantor Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Indramayu.

Ketua Serikat Buruh Mitra Kerja Balongan, Suteja mengatakan, buruh bakal menyuarakan sejumlah tuntutan. Di antaranya hapus sistem kerja kontrak, tolak upah murah, berlakukan upah layak nasional, stop PHK, laksanakan hak buruh perempuan, dan lindungi buruh migran Indonesia.

Kemudian tangkap dan adili pengusaha nakal, jaminan sosial bukan asuransi sosial, turunkan harga BBM dan bahan pokok, dan lainnya.

"Yang terpenting tuntutan kita masih tetap sama, yakni mengenai persoalan upah. Pada Februari 2016 lalu sudah disepakati mengalami kenaikan 11 persen yakni sebesar Rp2,6 juta yang sebelumnya hanya Rp 2.328.000," ujar Suteja, Jum'at (29/4/2016).


Penulis : Dwi Ayu
Sumber : Okezone

4,25 Miliar Setiap Hari, Uang Masyarakat Indramayu Dibakar Untuk Rokok


Indramayu - Pengeluaran masyarakat Indramayu untuk tembakau (rokok) mencapai miliaran rupiah setiap harinya. Kondisi itupun mengancam kehidupan ekonomi keluarga, terutama masyarakat miskin.

Ketua Indramayu Sehat Tanpa Rokok, Soimalia Mahar menyebutkan, setiap hari, uang yang dikeluarkan masyarakat Indramayu untuk membeli rokok mencapai Rp 4,25 miliar. Jika dikalikan sebulan, maka pengeluaran untuk rokok itu mencapai Rp 127,5 miliar.

''Trend konsumsi rokok telah sampai pada situasi yang mengkhawatirkan,'' kata Soimalia kepada Republika, Kamis (28/4).

Soimalia menyatakan, dampak yang ditimbulkan akibat konsumsi rokok sangat buruk bagi kesehatan. Tak hanya bagi kesehatan perokok, namun juga kesehatan orang lain yang terpapar asap rokok.

Selain mengganggu kesehatan, lanjut Soimalia, kondisi tersebut juga mengancam kehidupan ekonomi keluarga, terutama masyarakat miskin. Menurutnya, pengeluaran untuk rokok pada kelompok tersebut bahkan menempati urutan kedua setelah kebutuhan beras.

''Sebentar lagi rokok menggantikan posisi nasi,'' terang Soimalia.

Soimalia menambahkan, konsumsi rokok di masyarakat meningkat secara pesat dari tahun ke tahun. Bahkan, peningkatan secara tajam prevalensi perokok pemula juga terjadi di kalangan remaja.

Soimalia menilai, masifnya iklan/ promosi/musik sponsor rokok memberi dampak meningkatnya prevalensi perokok itu. Karenanya, dia memohon kepada para pengambil kebijakan agar melarang total iklan, promosi dan sponsor rokok.

Menurut Soimalia, pendapatan dari pajak reklame, promosi, sponsor rokok kontribusinya pun sangat kecil kepada total pendapatan daerah. Sedangkan dampak buruknya sangat besar dan luas.

''Untuk itu, sebaiknya dihilangkan saja dari pendapatan daerah,'' tegas Soimalia.

Soimalia pun berharap ada program berhenti merokok dan perda kawasan tanpa rokok segera terealisasi. Dengan demikian, bisa mengurangi konsumsi maupun dampak buruk rokok.

Sementara itu, berdasarkan data BPS Kabupaten Indramayu (Susenas), konsumsi rokok memang menempati urutan kedua pengeluaran masyarakat Indramayu setelah padi-padian (nasi).

Pada 2013, pengeluaran untuk tembakau dan sirih (rokok) mencapai 10,20 persen, hanya sedikit lebih kecil dibandingkan pengeluaran untuk padi-padian (nasi) yang mencapai 10,96 persen. Kondisi itu juga terjadi pada 2012, 2011 dan 2010.


Penulis : Lilis
Sumber : Republika

Pedagang Pasar Jatibarang Dipindah Tahun Depan

Foto Pasar Daerah Jatibarang, Indramayu

Indramayu - Para pedagang Pasar Jatibarang ditargetkan bisa menempati pasar baru di Blok Sojar, Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang tahun 2017 mendatang.  Anggota DPRD Indramayu, Roni Januri berharap perpindahan para pedagang pasar nantinya jangan terburu-buru. Meski sudah dijadwalkan pertengahan tahun depan, namun relokasi pedagang harus dilakukan setelah bangunan benar-benar siap.

“Kami berharap bangunan pasar yang kini masih dibangun jangan asal jadi karena kejar target. Karena Pasar Jatibarang merupakan sentral perekonomian di wilayah Kecamatan Jatibarang dan terbesar Indramayu. Jadi ini harus menjadi contoh,” ucap Roni.

Ia pun tidak ingin pedagang yang sudah memiliki surat izin menempati (SIM) telantar. Maksudnya, jangan sampai pedagang lama ini tersisihkan. Relokasi pun, kata Roni harus dilakukan serempak mengingat, pedagang di Pasar Jatibarang sangat beragam. Termasuk juga pedagang kain yang berjualan setiap Rabu dan Minggu, agar ditata di Pasar Jatibarang.

Relokasi pedagang ini kata dia, merupakan alternatif untuk terwujudnya program K3 yang diinginkan seluruh warga Indramayu khususnya Jtaibarang. Apalagi lokasi pasar ini berada di jantung Kecamatan Jatibarang. “Kami minta pasar Jatibarang yang baru nanti harus lebih bagus baik fasilitas infrastruktur, taman, pembuangan sampah sementaranya hingga kebersihannya,” jelasnya.


Sumber : Radar Cirebon

Top