Header Ads

postimage

Alami Pedangkalan, Waduk Cipancuh Harus Dikeruk

Indramayu - Waduk Cipancuh di Desa Situraja, Kecamatan Gantar diusulkan untuk kembali dikeruk. Pengerukan lumpur secara besar-besaran perlu dilakukan mengingat sendimentasi atau pendangkalan dasar waduk terbilang parah terutama di bagian selatan.

Pengamat Waduk Cipancuh, H Kanto mengungkapkan, sekitar 80 hektare dasar waduk di bagian selatan harus dikeruk dengan kedalaman minimal 1,5 meter. Bila hal itu dilakukan, tidak hanya membuat kondisi dasar waduk kembali menjadi normal, tapi pula akan menambah daya tampung air waduk sebesar 1,2 juta kubik. “Stok air waduk pastinya akan bertambah dan semakin bermanfaat untuk kebutuhan pasokan sawah,” kata Kanto, kepada Radar, Kamis (9/4).

Usulan tersebut, lanjut dia, sudah disampaikan kepada konsultan, Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen-PU) maupun sejumlah anggota DPR RI yang berkunjung ke Waduk Cipancuh beberapa waktu lalu.
Menurut Kanto, musim kemarau yang akan datang menjadi waktu yang tepat untuk dilaksanakannya pengerukan. Biasanya, kondisi waduk kering kerontang menyusul menyusutnya tiga sumber air yakni Sungai Cipancuh, Cicisepan dan Cibiuk.

Saking keringnya, waduk buatan pemerintah Belanda yang memiliki luas area 700 hektare dan kedalaman delapan meter ini sering dimanfaatkan warga sebagai sarana olahraga. Mereka menjadikan dasar waduk yang mengering sebagai lapangan sepak bola dan sirkuit motor cross.

Selain disulap sebagai sarana olahraga, dasar waduk yang dipenuhi rumput juga dimanfaatkan warga untuk menggembala kambing dan sebagai jalan pintas pengendara motor dari Blok Situraja menuju Blok Wadukan.
Menghadapi datangnya musim kemarau, para petani di Kecamatan Gantar sudah mulai bersiap dengan kembali mengoperasikan sumur pantek.Ssumur pantek menjadi satu-satunya alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bagi petani di Kecamatan Gantar selama musim kemarau.“Ya setelah air waduk habis, sumur pantek kita andalkan,” ucap Pandi salah seorang petani.

Dia mengungkapkan, sebagian besar petani di desanya sudah menggunakan sumur pantek sejak puluhan tahun lalu. Hampir semua petani sudah memilikinya. Ada yang sudah lama namun ada pula yang baru membuat untuk menghadapi musim kemarau tahun ini.

Hanya saja, karena jumlah petani yang mempergunakan sumur pantek semakin ba­nyak, muncul persoalan la­in. Yaitu produktivitas air terus mengalami penurunan. “Solu­sinya harus bergiliran. Kalau semua nyedot, air yang keluar kecil sekali,” tandasnya.


Penulis: Kho
Sumber: Radarcirebon

No comments

Powered by Blogger.