Header Ads

postimage

Kisah Sunarsih, dan Tenun Gedogan Khas Junti Kebon



Indramayu - Sambil duduk berselonjor, kedua tangannya dengan cekatan memasukkan dan mengeluarkan kayu di antara celah bentangan benang. Lalu kedua tangannya itu menarik kayu sisirnya untuk merapatkan helai demi helai benang hingga menjadi kain.

Itulah yang dilakukan Sunarsih (51), perempuan berkebaya dan berkerudung sambil menunggui stand-nya, di mana hasil karyanya berupa kain tenun Gedogan khas Junti Kebon, Indramayu dipamerkan pada acara Pesona Budaya Jawa Barat yang bertema Telung Dina Ning Dermayu (tiga hari bersama budaya Indramayu) mulai 21-23 Juni di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jabar, Jalan Bukit Dago Selatan Bandung.

Pada acara yang disebut juga Pekan Budaya Wilayah III Cirebon atau pekan budaya Indramayu itu, Sunarsih akan tetap setiap menunjukan cara membuatnya, selain memamerkan hasil kerjannya selama tiga hari. Karena kegiatan menenun kain Gedogan itu menjadi kesibukan kesehariannya, dalam mengisi waktu luang dari pekerjaannya sebagai petani.

"Ini kegiatan di waktu luang saya. Kalau di rumah juga jika tidak ke sawah, pagi-pagi itu sudah langsung menenun," tutur Sunarsih yang biasa menghasilkan dua kain dalam 3-4 hari saat ditemui Tribun di sela kesibukannya menenun di acara pameran, Kamis (21/6).

Menenun kain Gedogan diakui Sunarsih merupakan warisan dari orangtua dan para leluhurnya. Bahkan di Kampung/Desa Junti Kebon, Kecamatan Junti Nyoat, Kabupaten Indramayu dulunya dikenal sebagai daerah pembuat Tenun Gedogan, karena semua masyarakatnya mahir menenun kain Gedogan. Namun sekarang hanya tingga 2 orang, Sunarsih dan Salimah (60) yang masih menenun. Sementara ibu-ibu lainnya yang bisa menenun masih ada sekitar belasan orang dan masih memiliki alat tenun.

"Sekarang sudah jarang yang menenun. Anak-anak mudanya pun hingga sekarang belum ada yang tertarik untuk belajar menenun. Karena pendapatannya kurang begitu besar dan anak muda sekarang sudah disibukan dengan pekerjaannya masing-masing," kata ibu dua anak yang keduanya pun sudah lulus sarjana dan sibuk menjadi guru.

Penghasilan dari membuat kain Gedogan, diakui Sunarsih hanya untuk menutupi pembayaran listrik dan air ledeng setiap bulannya. Dalam sebulan, Sunarsih hanya mampu membuat 4-6 kain dengan ukuran 2,3 x 0,6 meter setiap kainnya, yang dijual dengan harga Rp 100 hingga Rp 150 ribu.

"Jadi ini hanya untuk penghasilan sampingan membantu suami sebagai petani," katanya.

Menurut Kasi Kesenian Disporabud Indramayu, Asep Ruhiyat SSn, kain Gedogan yang berarti kain untuk gendongan karena suka digunakan untukl menggendong anak atau barang oleh para petani atau pedagang itu sudah ada di Kampung Junti Kebon sejak abad ke-17 lalu. Ini menjadikan bagaian kekhasan dari Kabupaten Indramayu, selain juga memilikiu kekhasan pada seni kain batik yang sekarang sudah menjadi salah satu warisan budaya dunia.

"Sebelumnya tenun gedogan ini pernah dipamerkan di Taman Mini. Mudah-mudahan dengan pameran ini kekhasan Indramayu semakin dikenal masyarakat," katanya.

Pada acara Pesona Budaya Jawa Barat yang bertema Telung Dina Ning Dermayu (tiga hari bersama budaya Indramayu) itu juga dipamerkan berbagai jenis kekhasan dari Indramayu lainnya. Mulai dari Batik Paoman, Bordir Sukawera, Topeng, Wayang, dan Seni Lukis Kaca. Bahkan dipamerkan pula beragam kuliner khasnya seperti Burbacek, jajanan Klepon, Kamir, Kue Lapis, Koci, Kue Talam, dan Blengep Cocot.

Selain pameran pesona budaya Indramayu itu juga akan dihangat dengan acara diskusi tentang fenomena tarling oleh Supali Kasim pada Jumat (22/6) pukul 13.00 dan malamnya mulai pukul 19.30 akan digelar pergelaran drama tarling. Lalu di hari ketiga sebagai acara penutup mulai pukul 19.30 akan ditampilkan pergelaran Ronggeng Prigel.

Kepala Disparbud Jabar Drs Nunung Sobari MM yang disambut dengan tarian Randu Kentir saat membuka Pesona Budaya Jabar 2012 mengatakan acara tersebut sebagai upaya meningkatkan promosi potensi-potensi budaya yang ada di kabupaten/kota Jabar, dan sekang ini merupakan giliran kabupaten Indramayu.

"Ini merupakan salah satu langkah kerjasama antara kabupaten dan provinsi dalam menggenjot promosi potensi budaya dan kepariwisataannya dengan berbasis masyarakat. Pihak kabupaten juga perlu terus melakukan penataan destinasinya," kata Nunung.

Ke depan, Balai Pengelolaan Taman Budaya Jabar lanjut Nunung tidak hanya menggelar kegiatan revitalisasi dan pewarisan tapi menjadi pusaat informasi seni budaya yang ada di Jabar. (sumber)

No comments

Powered by Blogger.