Header Ads

postimage

SMKN 1 Losarang Jago Merakit Komputer Tablet



Merakit komputer dalam bentuk personal computer ataupun notebook bukan pekerjaan rumit bagi siswa karena telah terbiasa. Kini tantangan siswa beralih ke perakitan komputer tablet. Namun, siswa SMKN 1 Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kini pun mahir melakukannya.

Bagi Kanto, siswa kelas XI program keahlian teknik komputer dan jaringan (TKJ), merakit komputer tablet lebih rumit dan memakan waktu lebih lama. Ukuran komponen yang lebih kecil dari PC ataupun notebook membuatnya harus lebih berhati-hati ketika dirakit. Untuk merakit satu unit komputer tablet, Kanto membutuhkan kira-kira 30-40 menit. Baginya, tahapan perakitan yang paling sulit adalah ketika membuka casing komputer tablet.

”Takut lecet saja. Orang pasti tidak mau beli barang yang lecet jadi harus sangat hati-hati,” kata Kanto ketika ditemui di pameran dalam rangka Hari Pendidikan Nasional di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, awal Mei.

Meski sulit, sudah puluhan komputer tablet berukuran tujuh inci yang dirakit dan dijualnya. Satu komputer tablet yang termurah dijual Rp 1 juta. Dalam satu bulan bisa terjual minimal tiga unit

Sebelum dipasarkan, semua hasil rakitan harus lolos pemeriksaan kualitas dari rekan industri sekolah yang menyuplai komponen komputer tablet. Jika ditemukan satu kesalahan saja, Kanto harus membongkar dan merakit ulang komputer tabletnya. ”Kami harus memastikan komputer itu benar-benar berfungsi normal,” ujarnya.

Sejak kelas X

Sejak kelas X, siswa TKJ telah belajar merakit PC dan notebook bekerja sama dengan PT A & A Technology. Hasil rakitan siswa itu kemudian dipasarkan dengan merek SMA A*Note. Untuk merakit satu notebook, hanya dibutuhkan sekitar 10 menit dan dalam satu bulan siswa bisa merakit hingga puluhan unit.

Gus Triyadi, siswa kelas X TKJ, menambahkan, selain merakit, siswa juga diajari troubleshooting sejak kelas X. Bahkan, para siswa juga bisa memperbaiki atau memberi servis pada komputer yang telah terjual.

Guru Produktif TKJ, Norma Prayudha, menjelaskan, untuk kelas X, siswa pertama-tama harus mahir merakit PC, kemudian harus bisa membuat server atau admin jaringan. ”Kelas X harus tahu PC, kelas XI harus bisa jaringan, dan kelas XII harus bisa membangun server web database. Siswa juga diajari hal-hal lain selain peranti keras, seperti multimedia, supaya tidak jenuh. Tetapi, itu dilakukan di luar jam pelajaran, seminggu dua kali,” ujarnya.

Guru TKJ, Aan Sulistyawan, menambahkan, selain dilatih agar mahir merakit atau memperbaiki komputer, notebook, dan komputer tablet, siswa juga diharapkan bisa menjadi ahli teknologi informasi dengan konsentrasi bidang peranti keras dan sistem jaringan komputer. Selain itu, terampil dan kreatif di bidang elektronika, instrumentasi, dan kontrol industri.

Selain TKJ, sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Pantura Losarang, Indramayu, Jawa Barat, di lahan seluas 1,98 hektar ini juga memiliki program keahlian teknik permesinan (TPM), teknik elektronika industri (TEI), agribisnis (AGR), dan teknik kendaraan ringan (TKR). Setiap program keahlian menggunakan sertifikasi uji kompetensi dari industri seperti TKJ yang menggunakan sertifikasi Cisco Networking Academy dari Amerika Serikat. Untuk TPM sertifikasinya dari Polman ITB dan Pindad Bandung, TEI dari PT Sanwa Bandung, AGR dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, dan TKR dari PT Teja Berlian Cirebon.

Adiwiyata

Sekolah ini tiga kali meraih penghargaan Adiwiyata Mandiri tingkat nasional dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kepala SMKN 1 Losarang Mamat Abdul Somad menjelaskan, sekolah ini terpilih memperoleh penghargaan ini karena kegiatan belajar mengajar berbasis lingkungan. Hal itu misalnya pengelolaan limbah sekolah menjadi media tanaman, memanfaatkan kompos, dan bijih plastik. Selain itu, sekolah juga sedang mengembangkan tanaman langka berupa menoa dan anggrek yang dikembangkan secara kultur jaringan.

Di sekolah ini kegiatan pembelajaran diintegrasikan dengan pendidikan lingkungan hidup pada semua mata pelajaran. Guru-guru mengaplikasikan makna lingkungan hidup dengan memberi pelajaran dan dalam perilaku sehari-hari dengan mewujudkan kebersihan, keindahan, dan ketertiban di sekolah. Karena prestasinya ini, pemerintah memberikan verifikasi rintisan sekolah bertaraf internasional. (Luki Aulia)

No comments

Powered by Blogger.