Header Ads

postimage

Panji dan Kelana Gandrung Dalam Ruwatan Koin Kuno Aerli Rasinah



Indramayu - Kiser dermayonan (tembang Indramayu-an) yang dilantunkan sastrawan Nurochman Sudibyo YS membuka ruwatan. Filosofi "krincing duit, kecopok iwak, pupu kewiak" ala Mas Dibyo, lantas divisualisasikan lewat gelaran yang dibawakan Aerli Rasinah, cucu maestro Tari Topeng Indramayu mendiang Mimi Rasinah.

Selasa (21/12) petang di Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, Desa Pekandangan, Kabupaten Indramayu itu, Aerli meruwat koin-koin kuno yang sempat berlaku di Indonesia dengan karakter Panji dan Kelana Gandrung dalam Tari Topeng. Kali ini karakter topeng lainnya seperti Samba, Tumenggung, dan Rumyang sengaja tak dimunculkan.

"Karena Panji dan Kelana menampilkan dua hal yang kontras," jelas Aerli usai melakukan pertunjukkan yang hanya ditampilkan spesial kepada Tempo.

Istilah yang disebut dalam bahasa Indramayu, krincing duit, kecopok iwak, pupu kewiak (bunyi uang jatuh, gelepar ikan di air, paha terlihat), menurut Mas Dibyo, "Ini melambangkan daya kejut akan sesuatu."

Sekitar Februari tahun depan, koin milik seniman Dartin Yudha yang diruwat tersebut akan dipamerkan dalam "Numismatik and Crayon" di Panti Budaya Wisma Dharma, Indramayu. Tak ketinggalan pula dengan beragam karya seni rupa seperti instalasi, kolase, sampai lukisan yang mengkreasikan material uang kertas kuno lainnya sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda, Jepang, hingga era Orde Baru.

"Lewat pameran pendidikan ini akan digambarkan bagaimana peran uang itu bisa jadi malapetaka bagi negeri ini sejak abad ke-16," ungkap Dartin.

Contoh penting di masa kolonial, kata alumni Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (sekarang Institut Kesenian Jakarta) itu, malapetaka uang dapat dilihat dari praktik cultuur stelsel (tanam paksa). Kemudian semakin jelas kekacauan ini terjadi ketika rezim Soeharto berkuasa.

"Terutama soal penyakit korupsi. Uang dari hasil korupsi itu jadi bencana, baik bagi negara maupun presiden itu sendiri. Soeharto sendiri tumbang karena ini," lanjutnya.

Makanya dalam tarian, Aerli menyuguhkan kekontrasan sifat manusia melalui Panji dan Kelana Gandrung. Panji berada di atas, suci, penuh keagungan, dan belum tercemar dengan nafsu keduniawian. Sementara Kelana Gandrung menggambarkan keberadaan di bawah, semakin dekat dengan keduniawian.

Lebih khusus lagi, gandrung itu sendiri bermakna menyukai. "Untuk tarian kali ini yang saya lakukan di atas koin kuno artinya menyukai atau cinta berlebihan terhadap uang atau harta kekayaan material," terang penerus dalang Tari Topeng Indramayu khas Pekandangan tersebut.

Cerminan sisi manusia salah satunya ditunjukkan dengan karakter Panji di mana ketika lahir jiwanya bersih ibarat bayi. Perkembangan lantas membuat sosoknya menjadi haus kekayaan yang disimbolkan dengan keserakahan, kesenangan, atau tergila-gila terhadap uang. Karakter ini tepat jika diwakili sang Kelana Gandrung.

"Makanya saya sebut kedua karakter ini sangat kontras. Soal uang, pada hakikatnya manusia bisa memakainya untuk kebaikan atau keburukan," tutur istri Ade Jayani itu.

Sesi pertama aksi menari sekitar setengah jam di sanggar sendiri, Aerli mengenakan topeng warisan sang nenek, Panji berusia sekitar 17 tahun. Begitu pun dengan dua topeng Kelana kesayangan Mimi Rasinah yang dipakai bergantian. (sumber)

No comments

Powered by Blogger.