Petani-Nelayan Rugi Rp1,46 M

Akibat Ceceran Crude Oil Pertamina di Karangampel
KARANGAMPEL
–Kerugian yang dialami para petani tambak dan nelayan Blok Tegalagung Desa Benda Kecamatan Karangampel akibat ceceran crude oil, ditaksir mencapai miliaran rupiah. Ketua petani tambak Tegalagung H Andi Afandi mengatakan, luas tambak yang tercemar mencapai 21 hektare atau terdiri dari 32 petak.

Tambak-tambak itu sebagian besar berisi ikan dengan usia dua bulan atau setengah bulan lagi akan dipanen. “Kalau dijumlah secara total kerugian yang dialami petambak dan nelayan memang mencapai sekitar Rp1,46 miliar,” ungkap Andi Afandi, Selasa (6/1).
Darsa (45), salah seorang nelayan mengungkapkan, akibat pencemaran crude oil tersebut nelayan sangat dirugikan. Pasalnya, nelayan tidak bisa melaut akibat kejadian ini. Selain harus membersihkan kapal akibat terkena crude oil, nelayan juga kesulitan mencari ikan karena banyak yang mati. Dikatakan Darsa, di Kali Cigedang yang tercemar crude oil terdapat 120 perahu besar dan 32 perahu kecil milik nelayan yang terpaksa tidak melaut untuk sementara waktu. “Yang pasti kami sangat dirugikan atas kejadian ini dan minta kepada Pertamina untuk bertanggung jawab,” tandas Darsa.
Sementara Kepala Layanan Operasi Pertamina EP Region Jawa Joko Riyanto didampingi Sunyoto mengatakan, PT Pertamina tidak menutup mata atas kejadian ini dan akan memberikan kompensasi asalkan semuanya diselesaikan dengan kepala dingin atau melalui musyawarah. Dikatakan Joko, dalam memberikan kompensasi Pertamina tidak bisa seenaknya.
Hal itu, lanjut Joko, harus sesuai dengan aturan yang ada dalam undang-undang penyelesaian sengketa lingkungan hidup.
Jadi, tambahnya, untuk bisa memperoleh ganti rugi, maka terlebih dahulu harus mengajukan proposal yang berisi tentang jumlah kerugian yang dialami nelayan dan petambak. Dari pengajuan tersebut tentunya akan diverifikasi apakah memang layak untuk mendapatkan ganti rugi seperti yang diajukan atau tidak.
Joko menambahkan, Pertamina saat ini juga sudah melakukan pembersihan crude oil di sepanjang Kali Cigedang agar tidak semakin meluas.
“Jadi pada prinsipnya kami tidak akan lepas tangan. Kami justru ingin bisa duduk bersama untuk membahas persoalan ini agar bisa dicarikan solusi terbaik dimana semua pihak sama-sama enak,” ungkap Joko. (oet)
Powered by Blogger.