Header Ads

postimage

Dua Menolak Dicalonkan, Cawagub Golkar Tinggal Daniel Muttaqien


Bandung - Dua kader Partai Golkar yakni Rahmat Effendi dan Neneng Hasanah Yasin menolak disebut sebagai bakal calon wakil gubernur yang akan mendampingi Ridwan Kamil pada Pilgub Jawa Barat 2018.

Rahmat Effendi yang kini menjabat Wali Kota Bekasi mengatakan, dirinya sedang fokus membangun konsolidasi untuk persiapan menghadapi Pilwalkot Bekasi.

"Kami sedang fokus mengikuti Pilkada Kota Bekasi. Jadi sekarang sedang sibuk-sibuknya komunikasi lintas partai untuk koalisi. Berkaca pada keinginan masyarakat di Kota Bekasi yang ingin agar amanah sebagai wali kota ini diteruskan pada periode mendatang," kata Rahmat dalam rilis yang diterima INILAH, Selasa (22/8).

Sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi, Rahmat secara tegas menyatakan solid mendukung Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2018-2023.

"Kalau bukan Kang Dedi Mulyadi (bakal calon gubernur dari Golkar), memang mau siapa lagi? Beliau kader terbaik di Jawa Barat, harus kita dukung," katanya.

Neneng Hasanah Yasin menyampaikan hal yang sama. Neneng yang baru dilantik menjadi Bupati Bekasi periode 2017-2022 itu mengaku sedang fokus menjalankan visi, misi dan program kerja yang sudah disampaikan selama masa kampanye lalu.

Keduanya menolak disebut sebagai bakal calon wakil gubernur bagi Ridwan Kamil pada Pilgub Jabar 2018, setelah ada pernyataan dari Koordinator Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah I (Jawa dan Sumatera) Nusron Wahid. Selain dua tokoh itu, terdapat nama Anggota DPR RI Daniel Muttaqien Syafiuddin.

Setelah penolakan dua tokoh tersebut, sekarang tinggal tersisa nama Daniel. Menurut pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing, Partai Golkar jeli melihat dinamika politik di Jawa Barat dalam menghadapi Pilkada Serentak 2018.

Sebab dengan memunculkan wacana baru yakni peluang mengusung Ridwan Kamil sebagai calon gubernur dan menyodorkan sejumlah nama yang potensial menjadi cawagub, maka Partai Golkar lebih leluasa dalam menentukan calon yang akan diusung nanti berdasarkan peluang kemenangannya.

"Karena Ridwan Kamil memang masih memiliki magnet kuat untuk diusung menjadi calon gbernur. Sangat wajar jika nantinya Golkar juga mengusungnya," kata Emrus.

Emrus menilai akan menjadi kekuatan dahsyat jika Golkar menyandingkan Ridwan Kamil dengan Dedi Mulyadi. Namun ketika Dedi Mulyadi tidak bisa dipasangkan untuk menjadi cawagub, Golkar juga masih punya tokoh potensial lain yang belakangan ini mulai dimunculkan.

Jadi, kata Emrus, peluang Golkar mengusung Ridwan Kamil juga mungkin. Termasuk upaya menduetkan tokoh dari Golkar seperti Daniel Mutaqien Syafiudin, tokoh muda Golkar dari unsur wilayah Pantura yang juga anggota Komisi V DPR daerah pemilihan Indramayu. Selain itu, Golkar juga masih punya figur lain seperti Walikota Bekasi Rahmat Effendi, dan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin.

"Politik kan dinamis, dan perhitungannya bukan sebatas siapa yang kuat untuk menang. Tapi politik juga soal siapa dan dapat apa. Ini yang membuat kondisinya selalu terbuka," jelas Emrus.

Emrus menilai alasan kenapa Golkar jeli dengan tetap membuka pintu bagi Ridwan Kamil, karena Wali Kota Bandung itu punya tiga modal dan prasyarat untuk menang, yakni popularitas, acceptabilitas, dan elektabilitas.

"Sekarang tinggal kendaraannya. Siapa yang mengusungnya dan siapa pasangan yang tepat. Dan dalam kondisi sekarang, Golkar bisa masuk dari sisi itu mengingat Ridwan Kamil baru dicalonkan Partai Nasdem yang dari segi persyaratan kurang mencukupi," terangnya.

Penulis : dey/Inilah.com

Download Tarling Cirebonan
Powered by Blogger.