Serangan Tikus Mengganas Ribuan Hektar Sawah Gagal Panen


Indramayu - Hama tikus semakin ganas menyerang persawahan di Kabupaten Indramayu pada musim tanam gadu kedua tahun ini. Akibatnya, para petani memperkirakan sekitar 1.000 hektare sawah di beberapa kecamatan wilayah barat mengalami gagal panen.

Salah seorang buruh tani di Kecamatan Sukra, Carodin (50), menganggap serangan tikus pada musim tanam gadu kedua tahun ini adalah yang terburuk. "Kalau dibandingkan beberapa musim tanam sebelumnya bahkan dari tahun lalu, serangan tikus yang sekarang memang sangat parah," katanya, Selasa 13 September 2016.

Menurut pantauannya, serangan tersebut setidaknya terjadi di beberapa desa kecamatan yakni Sukra dan Patrol. Kedua kecamatan itu diakui langganan terserang tikus. Padahal, persawahan seluas ribuan hektare di sana dianggap sangat subur sehingga kerap melakukan proses tanam hingga tiga kali setahun.

Carodin menjelaskan serangan tikus di desa Tegaltaman dan Sumuradem, Kecamatan Sukra terjadi mulai dari sebagian kecil hingga seluruh area sawah. Tikus-tikus tersebut, katanya, menyerang tanaman padi sejak masih baru ditanam hingga usia tanam selama dua bulan. Tak sedikit sawah yang akhirnya dibiarkan karena para petani tak mampu lagi memberantas tikus.

"Para petani sudah melakukan berbagai macam cara untuk memberantas tikus-tikus itu mulai dengan memagari dengan plastik, memberikan obat-obatan sampai dicampur oli segala tetap tidak mempan," kata Carodin. Para petani juga kerap bergotong royong memburu tikus-tikus tersebut hingga ke sarangnya.

Bahkan, para petani menurutnya juga sempat melakukan doa bersama dalam satu acara khusus beberapa waktu lalu. Doa bersama diharapkannya bisa mengurangi serangan tikus yang sudah dianggap sebagai bencana.

Para petani di sana mempercayai penyebab serangan tikus yang memburuk kali ini disebabkan proses tanam yang tidak serempak di wilayah Indramayu. Pasalnya, Carodin mengakui serangan tikus sudah terjadi sejak musim rendeng lalu meskipun dampaknya tidak terlalu buruk.

Petani lainnya, Rohmah (48) menyebut hasil panen padi di persawahan yang terserang tikus mengalami penurunan secara signifikan. "Pada panen gadu pertama dari satu hektar sawah mungkin hasilnya hanya 1,5 ton. Itu masih mendingan dari pada sekarang gagal panen sawahnya," katanya.

Akibat banyak pemilik lahan yang membiarkan sawah mereka, banyak buruh tani seperti Rohmah dan Carodin akhirnya menganggur. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, beberapa di antara mereka disebut rela mencari pekerjaan ke luar daerah. Sedangkan buruh tani perempuan seperti Rohmah memilih berjualan makanan tradisional rumbah.

Seorang petani yang mengolah sendiri sawahnya di samping pabrik Pembangkit Listrik Tenaga Uap Desa Sumuradem Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu, Carti (50) mengaku rugi. Dari satu kotak sawah seluas 300 bata miliknya, ia mengaku hanya mendapatkan gabah seberat empat kuintal pada panen musim gadu pertama.


Penulis : Hilmi Abdul Halim
Powered by Blogger.