Header Ads

postimage

Petani Indramayu Khawatir Harga Gabah Merosot di Musim Panen

Indramayu - Petani di Kabupaten Indramayu khawatir harga gabah akan terus merosot saat musim panen tahun ini.

Harga gabah diprediksi akan terus menurun hingga akhir Mei mendatang. Terlebih masa panen raya diprediksi terjadi awal April hingga Mei mendatang. Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu Sutatang me ngatakan, saat ini harga gabah kering pungut (GKP) di ting kat petani saat ini mencapai R p3.700 - Rp3.800/kg.Harga itu merupakan harga pembelian pemerintah (HPP) pada 2015.

Harga GKP untuk jenis Muncul dan Kebo, berkisar antara Rp3.700 - Rp3.800/kg. Padahal, saat awal musim panen sekitar pertengahan Maret, harganya masih sekitar Rp4.000/kg. Sementara untuk GKP jenis IR Ciherang, saat ini berkisar Rp 4.000 - Rp 4.200/kg. Harga itu sudah jauh menurun di banding kan awal Maret lalu yang menembus hingga Rp5.000/kg. ‘’Harga gabah diprediksi bisa di bawah HPP saat puncak panen raya terjadi karena pasokan gabah di berbagai daerah akan berlimpah,’’ terang Sutatang.

“Harga gabah masih bisa mengalami penurunan, karena panen padi masih berlangsung. Gabah harganya akan jauh dibawah HPP,”katanya. Untuk itu, petani mengaku cepat-cepat menjual gabah untuk menghindari kerugian karena harga gabah yang khawatir terus merosot. “Daripada rugi karena harga terus turun, gabah yang sudah dipanen langsung dijual ke pengepul atau tengkulak,”katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu Takmid Sarbini mengungkapkan, penurunan harga gabah akibat hukum ekonomi. Pasalnya, jika produksi melimpah, harga akan mengalami penurunan. “Tapi kami akan tetap memantau harga gabah di pasaran, sehingga penurunannya tidak terlalu signifikan”ujarnya.

Pemkab Indramayu siap untuk menyukseskan program swa sembada beras yang di canangkan pemerintah pusat. Luas lahan sawah mencapai 116.609 hektare sangat di andalkan untuk mewujudkan swasembada beras nasional yang tidak pernah tercapai selama 30 tahun terakhir. Bahkan, dengan target produksi 1,7 juta ton gabah kering panen pemerintah pusat, Kabupaten Indramayu terus menjadi tempat observasi pertanian bagi daerah lainnya.

Untuk mencapai target produksi tersebut Kabupaten Indramayu telah memiliki Perda Nomor 16/2013 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Namun sayang, untuk mendukung swasembada beras nasional itu, kondisi pertanian di Indramayu masih menyisakan sejumlah persoalan yakni kondisi jaringan irigasi di Kabupaten Indramayu mengalami ke rusakan sebanyak 60%.

Untuk perbaikan irigasi tersebut memerlukan anggaran sebesar Rp6,65 triliun, jika dikerjakan selama kurun waktu 5 tahun.


Penulis: Tomi indra
Sumber: Koran sindo

No comments

Powered by Blogger.