Header Ads

postimage

Sunarto Marta Atmaja (Kang Ato) : Kesenian Tarling Berasal Dari Indramayu

Indramayu - Tokoh seni Tarling Klasik asal Cirebon Sunarto Marta Atmaja, tegas menyatakan bahwa kesenian tarling berasal dari Indramayu.  Pernyataan itu dilontarkan Sunarto alias ‘Kang Ato’, kesenian tarling itu benar adanya, asli berasal dan diciptakan di Indramayu oleh Ki Sugra (alm) dari Kepandean Indramayu tahun 1930.

Sunarto adalah satu dari 3 pembicara yang mengapresiasi keberadaan seorang tokoh tarling Ki Sugra pada acara Saresehan Budaya : Apresiasi Seni Tarling Klasik “Mengenang Sugra” di Panti Budaya, Senin (15/9) malam.  Dua pembicara lain, Supali Kasim, M.Pd dan Nurochman Sudibyo, YS.

“Sayalah saksi hidupnya.  Sudah dua kali saya bertemu Wa Sugra.  Jadi singkat saja tarling itu ciptaan Wa Sugra dari Indramayu,” ujar Sunarto berulang-ulang setelah memaparkan sejarah kedekatannya dengan almarhum.

Konon Sunarto sendiri disebut-sebut generasi penerus setelah Ki Sugra dan menjadi bagian dalam sejarah seni tarling yang lekat dengan kehidupan masyarakat pesisir Indramayu dan Cirebon.  ‘Kang Ato’ didaulat menyanyikan lagu Melati Segagang berduet bersama Mimi Dadang Darniah.  “Lagu ini saya ciptakan antara tahun ’66 – ’67,” tuturnya dalam bahasa daerah.

Pada saresehan itu digelar drama musikal tarling klasik mengangkat kisah Saedah – Saenih yang cukup melegenda oleh kelompok tarling Kijang Kencana pimpinan Haris Kusnandar dan penanggung-jawab Ciptadi, SH (Kepala radio Kijang Kencana-K2 FM).  Kisah klasik Saedah – Saenih berjudul Balai Kambang Kali Sewo dimainkan oleh para pelaku, Wa Kumed, Aas Asmari, Hj. Dadang Darniah, Titin Anitha, Inah Kadminah dan Wa Betat, membuat kenangan lama kembali terkuak, meski konten cerita tak sampai menguras air mata penonton.

Beberapa pengamat seni yang hadir sedikit menyayangkan pelaksanaan saresehan.  Bahkan Kepala Disporabudpar Indramayu Drs. Umar Budi Karyadi harus pindah ke barisan tempat duduk paling belakang, demi untuk dapat mendengarkan dialog Saedah (diperankan Aas Asmari) yang terdengar kurang jelas.

Terlepas dari semua itu, apresiasi tentang Ki Sugra disambut luar biasa oleh penonton.  Nuansa panggung yang ditata bergaya tahun ’70-an, dirasakan cukup menggungah kerinduan akan seni yang kini mengalami modernisasi, komersialisasi dan sudah masuk ke ranah industrialisasi itu.

Pertanyaan besar agaknya masih perlu ditindak-lanjuti, di antaranya mengupayakan Hari Tarling Se-Dunia seperti harapan Nurochman Sudibyo.  Atau membuat nada-nada tarling ke dalam notasi angka atau notasi balok seperti harapan Ketua DKI Adung Abdulgani.

Acara dihadiri seniman, budayawan, birokrat, pemerhati seni dan disaksikan 'seseorang' yang sedang tersenyum di alam sana.  (Jeffry/K2FM)

No comments

Powered by Blogger.