Header Ads

postimage

Selain Berdebu, Jalur Pantura Indramayu Tiada Hari Tanpa Macet



Indramayu - Jalur Pantura Indramayu, Jawa Barat tiada hari tanpa kemacetan lalu-lintas dalam sepekan terakhir ini, Minggu (1/7).

Musim macet di Pantura Indramayu kebetulan waktunya berbarengan dengan memasuki hari libur sekolah yang ditandai semakin padatnya lalu-lintas kendaraan.

Kemacetan di jalur Pantura Indramayu terjadi di 3 titik perbaikan ruas jalan masing-masing di Desa Eretan Wetan Kecamatan Kandanghaur, Desa Jumbleng Kecamatan Losarang dan Desa/Kecamatan Widasari.

Di Eretan Wetan macet karena ada kegiatan pengaspalan jalan membuat arus kendaraan dari Jakarta menuju Cirebon dialihkan menjadi satu jalur.

Macet di Desa Jumbleng karena aktifitas pekerja dan alat berat yang mengeruk permukaan aspal. Sedangkan macet di Desa Widasari karena kegiatan peningkatan jalan yang nampaknya cukup lelet.

Diantara tiga titik perbaikan jalan itu yang paling parah membuahkan kemacetan lalu-lintas di titik Desa Eretan Wetan. Antrian kendaraan mencapai 6 km.

Kendaraan dari Patrol hendak ke Jatibarang yang jaraknya hanya sekitar 40 km terpaksa harus ditempuh dalam waktu tiga jam karena jalan yang dilalui macet.

Macet diperparah oleh ulah pengemudi bus dan truk di lokasi pengalihan arus kendaraan. Banyak bus dan truk yang nekad berpindah lajur dan cenderung mengambil ruang jalan yang sedang digunakan kendaraan dari arah berlawanan. Akibatnya macet kian panjang dan parah.

Selain sering terjadi kemacetan, jalur Pantura Indramayu sepanjang Jabar, juga nampak berdebu sehingga dapat mengganggu jarak pandang dan keselamatan para pengendara kendaraan bermotor.

Debu yang dapat membuat mata para pengendara kelilipan dan terasa pedih itu bukan berasal dari letusan gunung berapi. Tetapi dampak perbaikan jalan di Jalur Pantura Indramayu. Tepatnya di Desa Jumbleng dan Jangga, Kecamatan Losarang, Indramayu, Jabar.

Debu muncul setiap ada kendaraan yang melintas. Ini dapat mengganggu jarak pandang para pengendara kendaraan bermotor. Khususnya yang berada di posisi belakang. Karena tak ingin pandangan matanya terganggu karena jalan berebu, banyak pengendara yang menaikkan kecepatan alias ngebut saat memasuki jalan yang berdebu.

“Debunya lumayan mengganggu jarak pandang pengemudi. Saya minta kontraktor mengatasi munculnya debu itu dengan menyiram air ataupun menyapu debu itu,” ujar Soihin, 49 pengendara minibus yang dijumpai di Desa Jumbleng, Sabtu (30/6).

Seperti dimaklumi, Jalur Pantura Indramayu sejak beberapa hari terakhir ini mengalai perbaikan menjelang arus mudik Lebaran. Proses perbaikan jalan seperti yang terpantau di Desa Jangga dan Jumbleng, Kecamatan Losarang mengerahkan alat berat mengeruk permukaan aspal yang menempel pada beton dan digantikan dengan lapisan aspal baru.

Para saat proses pengerukan aspal itu, rupanya pekerja kontraktor Bina Marga lupa membersihkan sisa kerukan yang tercecer di jalan. Akibatnya tatkala kendaraan melintas debunya terbang membahayakan keselamatan pemakai jalan.

Hadirnya debu di speanjang jalan yang diperbaiki tak hanya dikeluhkan para pengguna jalan, namun juga dikeluhkan warga sekitar yang rumahnya di pinggir jalan. Debu yang cukup tebal membuat perabot dan peralatan rumah tangga menjadi lebih cepat kotor. (sumber)

No comments

Powered by Blogger.