Pelaku Keponakan Korban

Polisi Ungkap Kasus Pembunuhan Ibu Dua Anak
Kinerja jajaran Polsektif Sukra layak mendapatkan acungan jempol. Misteri pembunuhan disertai pemerkosaan yang menimpa Ny Wangsih alias Nawangsih (51)-bukan 45 seperti yang diberitakan kemarin, seorang ibu rumah tangga warga Desa Patrol Baru, Blok Karanganyar RT 01 RW 03 Kecamatan Patrol, berhasil diungkap hanya dalam waktu 36 jam usai kejadian.

WANGSIH, ternyata dihabisi keponakannya sendiri yang bernama Fatoni (24). Pelaku pembunuhan sadis itu ditangkap petugas Polsektif Sukra bersama Tim Buser Polres Indramayu, Jumat (27/2) sekitar pukul 13.00 di kediaman ibunya di Desa Sumuradem Timur, Blok Satria, Kecamatan Sukra. Tak ada perlawanan berarti ketika penangkapan yang berlangsung usai salat Jumat itu. Kepada petugas, anak kedua dari empat bersaudara pasangan suami istri Sanusi (alm) dan Rokenih (50) itu, mengaku membunuh dan memerkosa korban karena kesal dan merasa sakit hati.
Kapolres Indramayu AKBP Drs H Mashudi SH melalui Kapolsek Sukra AKP Jaya Hardiantho SH mengatakan, tersangka diringkus di rumah ibu kandungnya setelah sebelumnya sempat kabur keluar daerah. “Dari olah TKP serta hasil penyelidikan di rumah korban, kami sudah mencium adanya dugaan keterlibatan pelaku yang masih terhitung masih ada hubungan keluarga dengan korban,” ujar Jaya kepada Radar di ruang kerjanya.
Gelagat mencurigakan itu diperkuat dengan raibnya Fatoni yang tinggal seorang diri di sebuah rumah tidak jauh dari kediaman korban. Dari situ, polisi melakukan penelurusan keberadaan pemuda yang hanya tamatan kelas dua SMP itu. “Sempat kabur ke Subang lalu ke Jakarta. Tapi hanya semalam, lalu balik lagi ke rumah ibunya,” terang Jaya. Saat itulah, polisi yang sudah mengintai kediaman ibunya langsung melakukan penangkapan.
Dalam pemeriksaan, pemuda pengangguran tersebut menyatakan telah membunuh korban yang tidak lain adalah bibinya. Didukung keterangan dari sejumlah saksi, polisi menetapkan Fatoni sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana ini.
Selain menangkap pelaku, polisi juga menyita barang bukti berupa sebilah golok yang digunakan untuk membunuh korban. Golok bergagang warna hitam berbentuk kepala macan itu sebelumnya dibuang oleh tersangka di sebuah selokan air di perbatasan antara Desa Patrol Baru dan Desa Sumuradem Timur Kecamatan Sukra.
SAKIT HATI DIEJEK KORBAN
Di balik jeruji tahanan Mapolsektif Sukra, kemarin (27/2), Fatoni menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan koran ini. Dia mengaku membunuh Wangsih karena tidak tahan mendengar ejekannya. Semuanya bermula pada Selasa (24/2), saat Fatoni terlibat adu mulut dengan korban.
Persoalannya sepele, gara-gara pohon pisang di sekitar rumah Fatoni, daunnya ditebas atas perintah Wangsih lalu dijual ke orang lain. Uang hasil penjualan daun itu kemudian diberikan kepada Fatoni. “Saya sewot, kenapa gak ngasih tahu saya terlebih dulu,” ujarnya.
Dari situlah, korban rupanya merasa jengkel kemudian mengumpatnya. “Saya dibilang jelek, kurus, tatoan lah. Mentang-mentang saya selalu numpang makan, jadi senenaknya mengejek,” ucapnya. Hinaan itu, kata Fatoni, menimbulkan niat untuk memberi “pelajaran” kepada bibinya.
Kesempatan untuk membalas dendam, dilakukan Fatoni Kamis dini hari (26/2). Sebelum melakukan aksinya, dia bersama kawan-kawannya menggelar pesta minum minuman keras (miras) di sebuah jondol (gubuk) tak jauh dari tempat tinggalnya. Pesta mabuk-mabukan yang dimulai sejak sore hari itu baru berakhir sekitar pukul 03.00 dini hari. Fatoni dan teman-temannya kembali ke rumah masing-masing. Karena pengaruh alkohol, tiba di rumah muncul niatan untuk membalas dendam.
Saat itu juga dia langsung mengambil sebilah golok bermaksud menyambangi rumah Wangsih yang letaknya hanya sekitar 30 meter dari kediamannya. Fatoni tahu betul, jika di pagi buta itu korban sedang tidur sendirian. Suaminya, Aminudin (50) yang berprofesi sebagai kemit (penjaga) masjid, tidak tidur di rumah bersama istrinya. Dia juga tahu, di rumah itu ada anak, menantu dan cucu korban yang tinggal serumah.
Karena sudah dirasuki nafsu setan, dia pun memasuki rumah yang didiami 4 jiwa itu lewat jendela samping ruang tengah dengan cara mencongkel. Upaya tersebut berhasil. Dia masuk ke rumah tanpa diketahui siapa pun. Ketika membuka pintu kamar, ternyata aksinya ketahuan calon korban. Wangsih yang terperanjat di atas ranjangnya, langsung menjerit minta tolong. Takut perbuatannya diketahui, tanpa pikir panjang pelaku menyabetkan goloknya ke wajah korban. Dan, Wangsih pun terkapar.
Tak sampai di situ, lantaran korban terus melawan, Fatoni membacok ke beberapa bagian tubuh korban di antaranya leher, pundak dan lengan, hingga korban terkapar tak bernyawa. Sadisnya, nafsu syahwat pelaku tiba-tiba muncul. Tergiur tubuh molek korban, dengan posisi terlentang berlumuran darah di atas ranjang, jasad korban kemudian disetubuhi. Padahal, saat itu, kondisi korban sudah tidak bernyawa.
Usai melakukan eksekusi dan melampiaskan hasrat seksualnya, pelaku kemudian cabut dari tempat kejadian lewat pintu dapur. Selanjutnya, berjalan kaki dengan melewati areal pesawahan menuju kediaman ibu kandungnya yang berada di Desa Sumuradem Blok Satria Kecamatan Sukra. Sebelum sampai di tempat yang dituju, Fatoni membuang goloknya ke sebuah gorong-gorong. Di tempat itu juga, pelaku membersihkan diri dari lumuran darah yang masih menempel di pakaiannya.
PENGAKUAN LAIN SANG KEPONAKAN
Fatoni banyak bercerita kepada koran ini tentang kenekatannya menghabisi bibinya sendiri, Ny Wangsih alias Nawangsih (51), ibu rumah tangga warga Desa Patrol Baru, Blok Karanganyar, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu.
Setelah membunuh bibinya, Fatoni menuju rumah ibunya di Desa Sumuradem, Blok Satria, Kecamatan Sukra. Kepada ibunya, Fatoni mengaku telah membunuh bibinya. Dia datang bermaksud meminta uang sebagai modal melarikan diri. Kontan saja, Rokenih, sang ibu, terkejut atas pengakuan anak keduanya tersebut.
Dia tidak percaya atas pernyataan anaknya. Tetapi setelah esok harinya mendengar kabar telah terjadi pembunuhan sadis yang menimpa Wangsih, Rokenih dibuat ketakutan. Anaknya kemudian diberi uang Rp100 ribu sebagai modal melarikan diri keluar daerah.
Berbekal pemberian ibunya itu, Fatoni langsung cabut ke rumah saudaranya yang lain di Desa Gempol Kecamatan Pusakaratu, Kabupaten Subang. Dari tempat itu, diapun kabur ke Jakarta dengan menggunakan kendaraan umum.
Rupa-rupanya, sesampainya di Terminal Pulogadung, Fatoni kebingungan. Apalagi tidak ada sanak saudara di Jakarta. Setelah menginap semalaman di sekitar terminal, dia pun memutuskan untuk balik ke kampung halamannya. Saat kembali ke rumah ibunya itulah, polisi langsung menangkap pemuda yang sudah kecanduan alkohol itu.
Sementara sang ibu kandung mengaku, setelah mendengar cerita anaknya dia pun kabur dari rumahnya mengungsi ke saudara suaminya di Kecamatan Anjatan. “Saya takut dibunuh Pak. Sekarang terserah polisi saja mau diapain anak saya. Memang benar anak saya salah,” ucapnya lirih saat memberikan keterangan kepada petugas di ruang Reskrim Polsektif Sukra. (kho)
Powered by Blogger.