Header Ads

postimage

'Nyiramkeun' Tradisi Membersihkan Pusaka Kerajaan Telaga Manggung

Majalengka - Ratusan warga nampak memadati Museum Talaga Manggung, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, Senin (30/11/2015).

Mereka menghadiri Tradisi "nyiramkeun" (membersihkan) benda-benda pusaka milik Kerajaan Talaga Manggung (sekarang Majalengka) .

Meski berdesak-desakan, namun warga begitu antusias mengikuti setiap ritual demi ritual yang dilakukan hingga selesai.

Tradisi yang digelar setiap satu tahun sekali itu, membersihkan benda-benda pusaka antara lain, goong renteng, tumbak, panah, keris, mariem, uang, dan lain-lain yang sudah disimpan dan dipajang lebih dulu.

Selain itu, terdapat juga dua patung berukuran setinggi 20 cm, yang disimbolkan sebagai patung anak Raja Talaga Manggung yakni Ratu Simbar Kancana dan Raden Panglurah.

Acara diawali dengan arak-arakan dari Alun-alun Kecamatan Talaga sambil membawa dua patung Simbar Kancana dan Raden Panglurah yang dibawa oleh mojang dan jajaka, dengan mengendarai kereta kuda kencana hingga di depan Musium Talagamanggung, sambil disambut dengan gemelan pencak silat.

Setelah itu, patung disimpan di atas panggung untuk dimandikan oleh keturunan kerajaan. Patung Raden Panglurah dimandikan di baskom oleh dua laki-laki yang masih keturunan raja. Sedangkan Patung Simbar Kancana dimandikan oleh perempuan yang keturunan raja.

Prosesi ritual "nyiramkeun" dan "tepung taun" diawali dengan mengambil air Cikahuripan di tujuh sumber mata air pada awal bulan safar (hitungan bulan Jawa) pada malam hari atau sehari sebelum acara siraman.

Ketujuh sumber air berasal dari Gunung Bitung, Situ Sangiang, Cikaray, Wanaperih, Lemahabang, Regasari dan Cicamas, yang diambil oleh sesepuh dari tiap daerah yang pernah menjadi tempat singgahnya atau punggawanya Kerajaan Talaga tempo dulu.

Mereka kini masih memegang beberapa benda pusaka peninggalan Kerajaan Talaga Manggung.

Mereka yang mengambil air tersebut sebelumnya menjalani puasa terlebih dulu. Pengambilan air tersebut menggunakan bambu kuning berdiameter sekitar 20cm.

Air dalam bambu tersebut pada acara puncak "nyiramkeun" kemudian disatukan ke dalam kendi (tempat penyimpanan yang terbuat dari tanah).

Setelah itu, air dibagi menjadi tiga bagian dan dimasukkan ke dalam baskom dan paso yang telah berisi air dan aneka bunga. Air tersebut kemudian digunakan untuk memandikan seluruh benda pusaka.

Sebelum acara siraman mulai dilakukan, dibacakan tahlilan dan doa untuk Raja Talaga Manggung serta keturunannya, para abid juga punggawanya, walaupun kabarnya mereka dulu sebagai penganut agama Hindu.

Pada kesempatan itu, ratusan warga sangat antusias menyaksikan dan mengikuti proses pemandian yang mempercayai keberkahan air bekas memandikan benda-benda pusaka tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Majalengka Ahmad Susanto mengatakan tradisi siraman harus tetap terpelihara, agar generasi kini mengetahui jika di Talaga sempat ada kerajaan yang besar dan disegani oleh raja-raja lain di masa itu.

"Acara ini adalah salah satu potensi wisata budaya sekaligus pengenalan sejarah bagi masyarakat yang belum mengetahuinya. Karenanya dengan ritual seperti ini akan diketahui oleh banyak orang," tandasnya.


Penulis : Sms
Sumber : Sindo
Powered by Blogger.