Header Ads

postimage

Kuwu di Indramayu Diharapkan Validasi Ulang Data Penerima Raskin

Indramayu - Lantaran penerima raskin sampai saat ini mendasarkan pada pendataan tahun 2011 silam, para kuwu didorong berinisiatif melakukan validasi warga miskinnya sendiri melalui musyawarah. Data validasi itu nantinya akan disampaikan oleh Pemkab Indramayu ke Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.

“Segera validasi, kirimkan kepada kami datanya, dan dikabulkan atau tidaknya data tersebut oleh TNP2K, menjadi urusan mereka. Yang terpenting, kita sudah melakukan upaya untuk memutakhirkan data warga miskin,” kata Sekretaris Daerah Pemkab Indramayu, Ahmad Bahtiar, di Sosialisasi Program Raskin Tahun 2015, Selasa (24/2/2015).

Dia mengatakan, inisiatif validasi itu dilakukan karena sering muncul masalah bahwa penerima raskin salah sasaran. Menurutnya, selama ini data rumah tangga sasaran penerima manfaat memang masih menggunakan data pada tahun 2011. Bila masih menggunakan data dari tahun yang lama, dipastikan kesalahan penerima manfaat raskin bisa terjadi.

“Selama tahun 2011 sampai sekarang, banyak perubahan yang terjadi. Ada warga yang meninggal, pindah, atau berubah status ekonomi. Perbedaan pendataan ini sampai ribuan orang, tidak hanya satu-dua orang,” katanya.

Selain itu, dia juga mencatat persoalan distribusi raskin yang kerap memunculkan persoalan harga yang tidak sesuai dengan harga tebus sebesar Rp 1.600/kilogram. Di lapangan, kerap terjadi pembayaran harga tebus bisa mencapai Rp 2.000/kilogram, padahal hal seperti itu melanggar aturan.

Menurutnya, yang harus diupayakan agar harga tebus tidak naik adalah menentukan titik bagi sebagai tempat diserahkannya raskin. Dia menilai, adanya titik bagi bisa menekan ongkos transportasi yang menyebabkan kenaikan harga tebus raskin. 

Selama ini, tuturnya, kerap ongkos transportasi maupun biaya pengemasan dijadikan alas an peningkatan harga tebus di atas Rp 1.600/kilogram. “Pada tahun 2016, kami akan memasukan biaya operasional untuk raskin ini dalam anggaran,” katanya.



Penulis: Muhammad Ashari
Sumber: PRLM

No comments

Powered by Blogger.