Header Ads

postimage

Indramayu Lumbung Padi Nasional, Warganya Masih Ada Yang Makan Nasi Aking



Indramayu - Tardi (50) dan keluarganya, warga Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, hanya mampu memakan nasi aking. Nasi bekas yang dikeringkan dan kemudian dimasak lagi itu merupakan makanan pokok sehari-hari mereka.

Sebagai buruh yang mengurus ternak tetangga, penghasilan Tardi tidak mencukupi untuk membeli beras. Harga beras yang terus melambung dari hari ke hari hingga mencapai Rp 6.500 per kilogram dinilai terlalu tinggi. Dia pun memilih membeli beras aking untuk kemudian dimasak layaknya beras yang menjadi nasi.

Tardi mengatakan, kebiasaan memakan nasi aking bukanlah kali pertama. Jika musim paceklik tiba, dia dan keluarga tidak segan- segan memakan nasi aking karena beras terlampau mahal baginya. Seperti yang dilakukan beberapa bulan terakhir ini, seiring dengan naiknya harga beras di pasaran, Tardi dan istrinya pun memilih memakan nasi aking.

Beruntung, anak-anak Tardi tidak protes dengan makanan pokok yang disodorkan orang tuanya. Meski berasal dari nasi bekas yang dikeringkan dan dimasak kembali, keluarga Tardi tetap lahap memakan nasi aking. "Karena mau bagaimana lagi, kami hanya mampu membeli aking, ya makan nasi aking saja," kata Tardi, Rabu (27/1) sore.

Supaya nasi aking yang dimakan keluarganya terasa sedikit enak, Tardi memasaknya dengan campuran parutan kelapa. Dengan demikian, seluruh keluarganya bisa makan nasi aking lebih lahap.

Diakui Tardi, penghasilan dari mengusus ternak tetangga sangat tidak menentu. Penghasilan hanya akan diperoleh jika ternak peliharaannya beranak. Anak-anak ternak itulah yang kemudian dibagi dua antara pemilik dan pemelihara.

Tardi pun mengaku hanya sesekali mampu membeli beras. Malah jatah beras miskin (raskin) untuk keluarganya pun sangat jauh dari cukup. Setiap bulan, pria berbadan kurus ini hanya memproleh jatah empat kilogram.

"Supaya lebih gurih, ya pakai campuran. Kalau nggak, kan kita juga nggak bisa bohong bedanya rasa nasi aking dengan nasi biasa," ujar Tardi.

Apa yang dialami Tardi merupakan potret kehidupan masyarakat Kabupaten Indramayu. Sebagai lumbung padi nasional, justru sebagian masyarakat Indramayu hanya mampu memakan nasi aking.

Saat dihubungi Tribun untuk dikonfirmasi mengenai hal ini kemarin, ponsel Raskim Dwiputra, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Kab Indramayu, tidak aktif. (Trib)

No comments

Powered by Blogger.